Di negara yang tengah berlomba memenuhi komitmen energi bersihnya, banyak kisah iklim dan inovasi Indonesia yang paling menarik tidak ditemukan di gedung pertemuan atau siaran pers pemerintah, melainkan di desa-desa, tempat pembuangan sampah, bengkel, dan masyarakat pesisir.
Namun, kisah-kisah ini jarang muncul di media arus utama.
Inilah kesenjangan yang kini tengah coba dijembatani oleh Program Pengusaha KINETIK NEX.

Kelompok tersebut – yang dipilih dari lebih dari 100 pelamar – termasuk wartawan dari publikasi nasional utama serta koresponden dari Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Sumatra.
Tujuannya adalah untuk membekali jurnalis dengan alat, pengetahuan, dan konteks yang dibutuhkan untuk menceritakan kisah yang inklusif dan berfokus pada solusi tentang transisi energi di Indonesia.
Mengapa kisah energi bersih seringkali tidak terungkap
Bagi banyak jurnalis, energi bersih tetap merupakan topik yang padat secara teknis dan sarat jargon.
Kebanyakan lebih terbiasa meliput bencana lingkungan, banjir atau gelombang panas daripada jaringan mikro surya yang dikelola masyarakat atau perjuangan perusahaan rintisan kecil yang mencoba bertahan hidup.
Syifa Maulida Wijdan from Magdalena, sebuah majalah daring feminis Indonesia, mengatakan topik tersebut dapat terasa membebani.

"Banyak sekali istilah yang belum kami pahami," ujarnya. "Kami berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, jadi konsep seperti akuntansi karbon atau akses energi terasa sangat baru. Dan karena sebagian besar dibahas dalam bahasa Inggris, hal itu bisa menjadi hambatan lain."
Syifa mengatakan pelatihan tersebut membantunya menghubungkan terminologi abstrak dengan pengalaman hidup. "Begitu kita memahami orang-orang di balik masalah ini," ujarnya, "laporan menjadi lebih jelas. Menjadi nyata."
Koresponden Tempo Kendari Rosniawanti Fikry Tahir mengingat laporan tentang sebuah komunitas di Kendari, Sulawesi Barat Daya, yang menggunakan gas metana dari tempat pembuangan sampah setempat untuk bahan bakar kompor rumah tangga sederhana.
"Itu sederhana, tapi berhasil," ujarnya. "Lalu berhenti karena ketika peralatan mereka rusak, tidak ada dukungan. Banyak solusi berbasis komunitas yang hilang begitu saja."

Pola serupa juga terlihat oleh jurnalis Mongabay Rendy Tisna dari Banjarmasin.
“Kisah-kisah ini rumit dan perlu diceritakan.”
Lokakarya yang dirancang untuk realitas jurnalisme Indonesia
Berbeda dengan program pelatihan pada umumnya yang sarat dengan teori, program ini mengajak jurnalis untuk terjun langsung ke dalam ketegangan dan dilema transisi energi di Indonesia.
1. Memahami startup energi bersih dan iklim
Disampaikan oleh Dhana Kencana, jurnalis senior dari IDN Times, sesi tersebut menyingkirkan jargon dan mendorong jurnalis untuk fokus pada kejelasan dan konteks.

"Jurnalisme solusi menuntut ketelitian tinggi," kata Dhana. "Ia menawarkan harapan, harapan nyata, berdasarkan bukti, bukan optimisme naif. Dan ia menggeser percakapan publik dari ketakutan menjadi kemungkinan."
Ia mendesak peserta untuk melihat melampaui siaran pers perusahaan dan menyelidiki mengapa inovasi sering gagal tumbuh dan mengapa proyek komunitas gagal.
2. Peran startup dalam mendorong inovasi
Marilyn Lestari, pendiri perusahaan rintisan mobilitas listrik Indonesia Leastric, menggunakan perjalanan pribadinya dari tagihan listrik yang mengejutkan hingga membangun perusahaan rintisan data energi untuk menggambarkan apa yang sering terlewatkan oleh para jurnalis.

“Teknologi hanya setengah dari cerita,” katanya. “Yang penting adalah mengapa Solusinya diciptakan, siapa yang dibantunya, dan perjuangan di baliknya. Itulah yang membangun pemahaman publik, kepercayaan, dan perubahan kebijakan.”
Ia menantang jurnalis untuk mengungkap narasi pribadi, termasuk kemunduran yang jarang dibagikan para pendiri kepada publik.
3. Pelaporan melalui lensa inklusi
Sesi oleh Pujiaryati Anggiasari, Manajer Kemitraan Gender Kesetaraan Disabilitas dan Inklusi Sosial (GEDSI) KINETIK, mendorong para jurnalis untuk mengenali siapa yang hilang dari berita energi.

"Hanya sekitar 10–15 persen liputan energi terbarukan di Indonesia yang melibatkan perempuan atau suara-suara yang terpinggirkan," ujarnya. "Tanpa pelaporan yang inklusif, debat kebijakan menjadi bias dan masyarakat tetap tidak terwakili."
Ia memberi peserta alat praktis untuk mengidentifikasi bias, menggunakan bahasa inklusif, dan memahami bagaimana transisi energi dapat memperdalam ketidaksetaraan.
4. Bercerita multimedia untuk era digital
Juru kamera lama Al Jazeera, Adi Guno, membawa para jurnalis ke dunia pelaporan lapangan berbasis telepon.

"Video bukan hanya tentang menampilkan gambar. Ini tentang menceritakan sebuah kisah," kata Adi. "Sebuah close-up yang bagus bisa bercerita lebih dari seribu kata."
Para jurnalis mempelajari segala hal mulai dari pembingkaian dan pencahayaan hingga menangkap audio yang bersih dan menghabiskan sore hari berlatih urutan A-roll (rekaman utama) dan B-roll (rekaman pendukung).
Perubahan perspektif
Sesi-sesi tersebut mengajarkan bahwa pelaporan energi bersih bukan hanya tentang teknologi atau kebijakan. Ini tentang pilihan yang dibuat orang, struktur kekuasaan di baliknya, dan komunitas yang terpinggirkan.
Pengalaman yang dibagikan oleh para peserta menunjukkan kekhawatiran bahwa banyak inovasi yang menjanjikan telah “dibungkam”, baik karena kebijakan, politik, atau kurangnya dukungan jangka panjang.
"Orang-orang telah berinovasi selama bertahun-tahun, jauh sebelum energi bersih menjadi tren," kata Rosniawati. "Namun, kisah mereka tak pernah sampai ke permukaan."
Membangun generasi baru reporter iklim
Pada akhir hari, para peserta pulang dengan ide cerita mulai dari pembangkit listrik mikrohidro yang terbengkalai hingga perempuan yang secara tidak proporsional bertanggung jawab dalam mengakses air.
Program Wirausaha KINETIK NEX juga meluncurkan kompetisi bagi jurnalis yang mengikuti pelatihan.
Dalam beberapa minggu mendatang, para jurnalis akan melakukan perjalanan untuk bertemu dengan perusahaan rintisan dalam Program Wirausaha KINETIK NEX, mengunjungi bengkel, rumah, desa-desa pesisir, dan pusat komunitas tempat inovasi iklim ini diuji dan disempurnakan.
Kunjungan lapangan akan memberi mereka wawasan mendalam tentang bagaimana ide energi bersih dikembangkan, tantangan yang dihadapi para pendiri, dan dampak nyata yang dihasilkan solusi ini dalam kehidupan sehari-hari.
Lima cerita terbaik masing-masing akan mendapat hadiah Rp5 juta.