Indonesia menghadapi tantangan sampah plastik.
Kantong sekali pakai untuk produk sehari-hari—seperti sampo, deterjen, dan saus cabai—murah dan praktis tetapi sulit didaur ulang. 
Bila bocor ke lingkungan, sachet sekali pakai mencemari sungai, terdampar di pantai, dan menyumbat saluran air sehingga menyebabkan banjir.
Perusahaan rintisan ini membantu masyarakat Indonesia menghentikan kebiasaan membeli sachet sekali pakai.

Perusahaan sosial Alner yang berkantor pusat di Jakarta berupaya mengurangi sampah dari kantong plastik sekali pakai dengan memberi penghargaan kepada warga Indonesia berupa uang kembali karena menggunakan kembali wadah.

“Kami menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari—seperti sabun dan beras—dalam wadah yang dapat digunakan kembali,” kata Bintang Ekananda, salah satu pendiri Alner.  

Pelanggan dapat membeli produk Alner – yang dijual dalam wadah yang dapat digunakan kembali yang terbuat dari plastik daur ulang – melalui warung setempat dan bank sampah. 

Bila wadah tersebut kosong, mereka dapat mengembalikannya dan memperoleh uang kembali, mulai dari Rp5,000 untuk botol sabun hingga Rp25,000 untuk wadah beras lima kilogram.  

Ini berarti kemasan ramah lingkungan bukan lagi barang mewah, tetapi pilihan yang tersedia bagi semua orang, termasuk masyarakat Indonesia berpenghasilan rendah. 

Alner mengumpulkan, membersihkan, dan mengisi ulang wadah, menciptakan ekonomi sirkular. 

Sekitar 90 persen usaha mikro yang menjual produk Alner dipimpin oleh perempuan, banyak di antaranya yang mengelola toko kecil di lingkungan sekitar.  

Mereka tidak hanya memperoleh penghasilan tetapi juga dapat menjadi pejuang keberlanjutan di komunitas mereka sendiri. 

Alner adalah salah satu dari enam Usaha Kecil dan Menengah yang mengesankan yang bergerak di bidang ekonomi hijau Indonesia yang hari ini dinobatkan sebagai KINETIK Sweef Fellow. 

Para Fellows akan menerima pelatihan dan bimbingan bisnis khusus untuk mempercepat pertumbuhan mereka selama tiga tahun ke depan sebagai bagian dari Program Wirausahawan KINETIK Sweef. 

Bintang Ekananda, Co-founder dan CEO AlnerFoto: JEFRI TARIGAN

Program ini merupakan hasil kerjasama antara KINETIK, Kemitraan Iklim, Energi Terbarukan dan Infrastruktur Australia Indonesia dan Sweef Capital, mendukung bisnis dalam ekonomi hijau yang dipimpin oleh perempuan atau meningkatkan kehidupan perempuan.  

Pengumuman KINETIK Sweef Fellows datang pada waktu yang tepat.  

Tanggal 27 Juni menandai Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), perayaan global atas peran penting usaha kecil dalam penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan berkelanjutan.  

Dengan menyumbang lebih dari dua pertiga bisnis di seluruh dunia, perusahaan-perusahaan ini merupakan kekuatan pendorong di balik perekonomian—terutama di negara-negara berkembang. 

Kreativitas mereka memicu solusi inovatif dengan manfaat yang luas. 

Namun, mereka terus menghadapi rintangan, seperti keterbatasan akses terhadap keuangan, pasar, dan teknologi. 

Salmala menjual produk Alner di warungnya di KemangFoto: JEFRI TARIGAN

Alner adalah studi kasus tentang bagaimana Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dapat menjadi katalisator inovasi dalam mengatasi tantangan lingkungan.  

Sejak 2020, Alner telah menggunakan kembali lebih dari 100,000 wadah. Jumlah ini setara dengan 1.2 juta kantong sekali pakai.  

“Kami telah belajar untuk meningkatkan pemasaran kami dan tumbuh lebih cerdas, menjangkau pelanggan baru, dan mendiversifikasi pendapatan,” kata Tn. Ekananda. 

“Langkah kami selanjutnya adalah mengajak lebih banyak merek untuk bergabung dalam sistem isi ulang dan memperluas jangkauan ke lebih banyak kota di seluruh Indonesia.” 

Saat dunia merayakan Hari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, Alner memberikan pengingat yang kuat: memecahkan masalah besar dimulai dari hal kecil.