Di Indonesia, lebih dari 3.7 juta pemulung menjadi tulang punggung ekonomi daur ulang informal. Mereka bekerja dalam kondisi yang berbahaya, sering kali dengan pendapatan yang sangat minim.
Hanya sekitar 15 persen plastik yang berhasil didaur ulang, sementara ratusan ribu ton lainnya berakhir mencemari laut.
Rezycology hadir dengan aplikasi pelacakan yang membantu para pemulung memantau tingkat kontaminasi pada plastik yang mereka kumpulkan, sehingga mereka bisa menawarkan material dengan kualitas lebih baik dan mendapatkan harga yang lebih tinggi dari para pembeli.
CEO Octalia Stefani mengatakan bahwa para pengumpul sampah yang bekerja bersama Rezycology mencakup penyandang disabilitas dan perempuan.
“Sejauh ini, Rezycology telah membuka sekitar 120 kesempatan kerja inklusif di sektor pengelolaan sampah yang tidak membutuhkan keahlian khusus,” ujarnya.
Pada tahun 2025, Rezycology menjadi salah satu dari lima startup Indonesia yang menerima KINETIK Sweef Fellowship perdana. Program ini merupakan bagian dari KINETIK Sweef Entrepreneurs’ Program, yang memberikan dukungan teknis bagi startup yang dipimpin perempuan atau yang meningkatkan kualitas hidup perempuan dan penyandang disabilitas.
Direktur KINETIK, John Brownlee, mengatakan bahwa Rezycology adalah contoh kuat dari solusi iklim yang inklusif. “Dalam momentum Hari Internasional Penyandang Disabilitas pada 3 Desember, Rezycology menunjukkan bagaimana pekerja penyandang disabilitas berkontribusi memperkuat sistem daur ulang Indonesia,” ujarnya.

CEO Rezycology Octalia Stefani
Octalia ikut mendirikan Rezycology setelah mengelola bisnis pengelolaan sampah keluarganya selama lima tahun. “Dari pengalaman itu, saya melihat langsung betapa rumit dan menantangnya pengelolaan sampah di Indonesia,” katanya.
“Saya juga menyadari bahwa para pemulung dan pengumpul sampah memegang peran penting dalam rantai daur ulang.”
Namun, ia menjelaskan bahwa para pekerja ini menghadapi ketidakamanan kerja yang tinggi karena rendahnya literasi digital, lemahnya administrasi, dan terbatasnya kemampuan pengelolaan data.
Rezycology membantu menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan sistem digital untuk memantau proses daur ulang.
Ketika para pengumpul membawa sampah plastik ke pusat pengolahan, setiap karung plastik diberi barcode dan dipindai melalui aplikasi. Sistem ini melacak setiap tahap, mulai dari penyortiran hingga pengiriman. Semua data tampil dalam satu dashboard, sehingga seluruh proses bisa dipantau secara real time.

Para pengumpul sampah dapat melihat seberapa bersih plastik yang mereka bawa, menyesuaikan harga, dan bekerja sama dengan pemasok untuk mengurangi kontaminasi. “Semakin sedikit kontaminasi, kualitas plastik semakin baik, harga jual lebih tinggi, dan keuntungan pun meningkat,” jelas Octalia.
Pada tahun 2024, Rezycology berhasil mendaur ulang lebih dari 2400-ton plastik dan bermitra dengan tiga Badan Usaha Milik Desa di Grobogan dan Wirosari di Jawa Tengah serta Buleleng di Bali.
Perusahaan sosial ini kini mengelola sekitar 350 pengumpul sampah di tujuh stasiun daur ulang yang tersebar di Jawa dan Bali, serta bekerja sama dengan jaringan pemulung informal yang mengumpulkan plastik dari lingkungan permukiman, pasar, dan ruang publik.
Dukungan teknis dari KINETIK Sweef untuk Rezycology berfokus pada penguatan model pendapatan dan pemilihan opsi pembiayaan yang tepat dan berkelanjutan.

“Sebagai investor berdampak, kami melihat bagaimana syarat pembiayaan yang terlalu berat bisa menekan sebuah bisnis dan mengancam keberlanjutan jangka panjangnya,” ujar Stefani Vivian dari Sweef Capital. “Karena itu, kami membimbing para pendiri untuk fokus pada pertumbuhan yang stabil dan hanya menerima pendanaan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan usaha mereka.”
Program Kewirausahaan KINETIK Sweef juga membantu Rezycology dengan menyediakan berbagai alat untuk mengukur dampak mereka.
Dengan cara ini, Rezycology dapat menunjukkan tidak hanya berapa banyak plastik yang berhasil dialihkan dari lingkungan, tetapi juga bagaimana kehidupan para pemulung, terutama perempuan dan penyandang disabilitas, ikut meningkat.
Octalia mengatakan bahwa ia belajar bahwa keterlibatan perempuan dalam sebuah perusahaan dapat memengaruhi keputusan investor.
“Hal ini meyakinkan kami bahwa membangun tenaga kerja yang inklusif, termasuk perempuan dan penyandang disabilitas, bukan hanya memberikan dampak sosial, tetapi juga meningkatkan citra perusahaan dan daya tarik kami di mata investor.”

Di stasiun daur ulang di Depok, Doni berdiri dengan air setinggi mata kaki di tengah lautan botol air plastik, lalu mengangkat satu karung besar ke atas bahunya.
Penghasilan yang ia dapatkan membuatnya bisa tetap menafkahi keluarga.
“Itu sangat membantu. Saya bisa mengirim sedikit uang untuk orang tua di rumah,” katanya. “Rasanya menyenangkan bekerja di sini, seperti punya keluarga sendiri.”