Lima belas startup telah terpilih untuk mengambil bagian dalam Program Wirausaha KINETIK NEX, yang mendukung usaha kecil dan menengah (UKM) yang bergerak di bidang energi bersih dan solusi iklim di seluruh Indonesia.
Program yang resmi diluncurkan di Makassar pada 27 Agustus ini difokuskan pada usaha rintisan yang dikelola perempuan dan berbasis di Indonesia Timur.
Program ini akan memberikan delapan minggu pendampingan khusus, dukungan teknis, dan kesempatan untuk terhubung dengan investor bagi para startup. Di akhir program, lima UKM terbaik akan menerima bagian dari dana hibah total Rp1.6 miliar untuk menjalankan uji coba inovatif mereka.
Startup yang lolos program ini sedang mengembangkan berbagai solusi praktis, seperti mengolah limbah kopi dan nilam menjadi pupuk organik berbasis energi surya, menghadirkan layanan ojek listrik roda tiga ramah disabilitas, serta melatih perempuan dalam pengolahan sagu dengan tenaga surya.

Puleh Indonesia, di Banda Aceh, mengubah limbah nilam dan kopi menjadi pupuk organik. Foto: HENDRI
KINETIK NEX diselenggarakan oleh New Energy Nexus Indonesia, sebuah organisasi nirlaba yang menjalankan program inkubasi dan akselerator bisnis untuk startup energi bersih, dengan dukungan KINETIK, Kemitraan Australia–Indonesia untuk Iklim, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur.
Boby Wahyu Hernawan, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan Indonesia, mengatakan Indonesia dan Australia memiliki keyakinan yang sama.
“Menangani perubahan iklim bukan hanya keharusan global, tetapi juga kebutuhan nyata untuk memperkuat perekonomian, menjaga stabilitas, dan melindungi masyarakat,” ujar Bapak Boby.
“KINETIK dibangun berdasarkan prinsip sederhana namun penting: pembangunan dan dekarbonisasi tidak harus bertentangan – keduanya dapat maju beriringan.”
Bapak Boby mengatakan peluncuran Program Wirausahawan KINETIK NEX merupakan langkah awal yang penting untuk membangun ekosistem investasi iklim yang lebih inklusif yang memberikan efek berganda bagi UMKM dan perusahaan rintisan Indonesia.

Boby Wahyu Hernawan, (kiri), Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan, Kementerian Keuangan Indonesia. Foto: JEFRI TARIGAN
“Dari sini, kami berharap dapat melihat lahirnya model bisnis baru yang menempatkan solusi iklim sebagai inti strategi perusahaan, sekaligus menginspirasi inovasi lebih lanjut, memperkuat ekosistem keuangan berkelanjutan, dan mendorong pertumbuhan pasar karbon nasional,” ujarnya.
Konsul Jenderal Australia di Makassar, Todd Dias, menyampaikan bahwa Indonesia Timur kaya akan bakat dan ide, dan sangat menginspirasi melihat wirausahawan lokal menjadi pelopor energi terbarukan.
“Melalui KINETIK NEX, kami membantu para wirausahawan di Makassar dan seluruh Indonesia mengubah ide-ide berani menjadi solusi nyata yang akan mengurangi emisi, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong masa depan yang lebih hijau dan inklusif,” ujarnya.
Rambu Yati Radandima adalah manajer keuangan Sumba Sustainable Solutions, yang mendistribusikan lampu dan perangkat bertenaga surya ke desa-desa terpencil di Sumba.
“Melalui program ini, kami ingin mendorong terciptanya model bisnis berkelanjutan di desa-desa terpencil,” ujarnya.

Rambu Yati Radandima, kiri, dari Sumba Sustainable Solutions. Photo: YAN PITHER UMBU MAKI PAWOLUNG
Ibu Rambu mengatakan penting untuk menyediakan akses terhadap energi dan peralatan yang dapat digunakan masyarakat, sementara pada saat yang sama membangun skema bisnis yang menguntungkan.
“Dengan cara ini, kita dapat menarik investasi swasta dan memperluas dampak nyata bagi masyarakat.”
Ben Vasco Tarigan adalah salah satu pendiri Kuan Timor Technology, yang memasok air bersih ke desa-desa di Kupang menggunakan sistem desalinasi bertenaga surya.
“Saya yakin masyarakat memiliki kemampuan untuk mendorong perubahan dan memberikan solusi yang dapat meningkatkan kehidupan mereka,” ujarnya.
Namun, kami tidak dapat melakukannya sendiri. Kami senang dan bangga menjadi bagian dari program inkubasi bisnis KINETIK NEX, dan kami berharap dapat menyempurnakan inovasi yang kami kembangkan untuk menangkap uap air dari udara dan mengubahnya menjadi air minum.

Kuan Timor Technology memasok air bersih ke desa-desa di Kupang menggunakan sistem desalinasi bertenaga surya.
Indonesia memiliki sumber daya surya, angin, panas bumi, dan bioenergi yang melimpah, membentang dari Sabang hingga Merauke. Namun, sekitar 80% listrik negara ini masih dipenuhi dari bahan bakar fosil.
Direktur New Energy Nexus Indonesia, Diyanto Imam, mengatakan potensi energi terbarukan Indonesia sangat besar namun belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Melalui KINETIK NEX, kami ingin memastikan inovasi tidak hanya lahir di kota-kota besar, tetapi juga menjangkau daerah-daerah, menciptakan lapangan kerja hijau, dan menghadirkan solusi iklim yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat,” ujarnya.
Selengkapnya tentang 15 startup tersebut sini.