Pulau Bungin, sekitar dua kilometer dari lepas pantai barat Sumbawa, tidak memiliki jaringan listrik yang andal, dan masyarakat sangat bergantung pada perikanan skala kecil.
Sebelum adanya penyimpanan dingin bertenaga surya, ikan sering kali rusak dalam hitungan jam akibat panas, waktu perjalanan yang lama ke pasar, dan pasokan es yang tidak konsisten.
“Dulu kami sering kehilangan hasil tangkapan ketika pasar tutup atau kapal tertunda,” kata Jayanthi Mandasari, warga Bungin yang mengelola warung makan terapung bersama suaminya. “Sekarang kami bisa menyimpan ikan segar lebih lama. Ini berarti pemasukan bagi keluarga kami.”

Warga Pulau Bungin, Jayanthi Mandasari, mengelola warung makanan terapung bersama suaminya, menyajikan makanan laut segar kepada penduduk setempat dan pengunjung. FOTO: Jefri Tarigan
Australia Memberikan Kursus Singkat tentang Mencapai Transisi Energi yang Adil di Seluruh Indonesia
Kursus Singkat Australia Awards dirancang untuk membantu para profesional Indonesia merencanakan dan mengimplementasikan transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan. Diselenggarakan oleh Griffith University dan didukung oleh KINETIK, kursus ini memadukan pembelajaran di kelas dengan pengalaman langsung di lapangan.
Dosen Tamu Paul Lucas, salah satu pemimpin kursus, mengatakan lokakarya Sumbawa menunjukkan bagaimana transisi energi sedang dilaksanakan di Indonesia. "Dan di situlah kebutuhannya di komunitas terpencil dan terisolasi."
Pemimpin kursus bersama Profesor Prasad Kaparaju menekankan pentingnya ketersediaan energi terbarukan di luar pusat perkotaan.

“Pengembangan energi yang terdesentralisasi dan terpencil sangat penting jika kita ingin mencapai transisi energi yang adil.”
“Kita tidak butuh bantuan—kita butuh teknologi”
Kunjungan lapangan pertama membawa peserta ke Pulau Bungin, rumah bagi lebih dari 3,600 orang dari komunitas pelaut Bajau. Memancing menjadi sumber penghidupan hampir setiap keluarga di sini, tetapi kapasitas listrik masih terbatas, dan akses bahan bakar mahal. Masyarakat membutuhkan listrik tidak hanya untuk rumah tetapi juga untuk memancing di malam hari, saat lampu menarik tangkapan yang paling berharga.
Solar perlahan-lahan menulis ulang cerita ini.
Enam rumah tangga kini memiliki sistem surya atap. Yang lebih transformatif lagi adalah fasilitas penyimpanan dingin bertenaga surya yang dikembangkan oleh perusahaan rintisan energi terbarukan Olat Maras Power di Universitas Teknologi Sumbawa (UTS).
Nova Aryanto, seorang dosen yang memimpin inisiatif tersebut, mengatakan pekerjaan mereka berfokus pada kebutuhan nyata:
"Di Sumbawa, kami memiliki tingkat iradiasi matahari tertinggi di Indonesia. Jadi, mengapa tidak memanfaatkannya untuk mendukung masyarakat yang bergantung pada laut?"

Sebelum adanya fasilitas penyimpanan dingin, ikan yang tidak dapat segera dijual akan membusuk atau dikeringkan dengan harga pasar yang jauh lebih rendah. Kini, para nelayan di sini dapat menyimpan hasil tangkapan mereka dalam keadaan segar semalaman dan menjualnya saat harganya membaik.
Kepala Desa Bungin, Jaelani, melihat ini lebih dari sekadar proyek energi:
"Kita tidak butuh bantuan. Kita butuh teknologi yang membantu kita bekerja lebih baik. Tenaga surya membuat lampu tetap menyala saat memancing dan membantu kita menyelamatkan hasil tangkapan."

Bagi Betti Ratekan, peserta kursus singkat dari Bappeda Maluku, kunjungan tersebut sangat berkesan.
“Transisi energi harus menjamin keadilan dan inklusivitas, terutama bagi masyarakat adat,” ujarnya.
Dari pulau kecil menjadi industri besar
Setelah Bungin, rombongan melakukan perjalanan menyusuri garis pantai yang dramatis menuju pabrik Medco Power Solar Sumbawa, salah satu fasilitas tenaga surya terbesar di Indonesia yang didedikasikan untuk operasi pertambangan.

Pembangkit listrik tenaga surya yang terletak di area pertambangan Batu Hijau ini membantu mengurangi emisi CO₂ sekitar 40,000 ton per tahun sekaligus mengurangi biaya listrik lokasi hingga 20 persen. Pembangkit listrik tenaga surya ini dikembangkan bersama oleh Medco Power Indonesia dan perusahaan pertambangan Amman Mineral.
Ini merupakan bagian dari transisi Amman Mineral menuju bauran energi yang lebih bersih. Perusahaan juga sedang mengembangkan pembangkit listrik tenaga gas dan uap siklus gabungan berkapasitas 450 MW untuk menggantikan penggunaan solar dan batu bara.
“Integrasi energi terbarukan ke dalam industri berat ini menunjukkan bahwa penambangan skala besar dapat berkontribusi secara signifikan terhadap target emisi nasional,” ujar Adrianto Darmoyo, Wakil Presiden Bidang Tenaga Surya dan Angin di Medco Power Indonesia.

Seperti yang dikatakan salah satu peserta: "Ini menunjukkan kepada kami bahwa industri dapat menjadi bagian dari solusi. Teknologinya sudah ada – yang dibutuhkan adalah kepemimpinan dan kolaborasi."
Peserta sebagai pembawa perubahan di komunitas mereka
Sepanjang kursus, peserta mengembangkan proposal proyek praktis yang didasarkan pada kebutuhan lokal dan diperkuat oleh pelajaran dari Sumbawa, Australia, dan berbagai wilayah di Indonesia.
Profesor Lucas terkesan: "Setiap proyek memiliki makna, dan masing-masing relevan. Sebuah solusi yang sangat komprehensif."
Contohnya termasuk:
- Pekerjaan Hijau untuk Perempuan – dipimpin oleh Anggita Pradipta, Energi Matahari
Anggita percaya bahwa kesetaraan gender harus tertanam dalam peralihan energi bersih di Indonesia, bukan diperlakukan sebagai renungan belakangan.
“Ada potensi besar bagi perempuan untuk mengejar karier di bidang energi terbarukan.”
Ia menambahkan bahwa keterlibatan perempuan tidak hanya tentang keadilan tetapi juga tentang membuka kapasitas nasional,
"Kita punya keterampilan; yang kurang adalah kesempatan. Energi terbarukan dapat membuka peluang tersebut, terutama di wilayah-wilayah di mana mata pencaharian perempuan lebih rentan."
- Irigasi Tenaga Surya untuk Petani Padi Tadah Hujan – proyek gabungan Daniel Maynard Samosir dari GIZ (Badan Kerjasama Internasional Jerman) dan Muhammad Nurdiansyah dari PLN
Kolaborasi ini ditujukan untuk mendukung petani yang berjuang menghadapi kelangkaan air dan tingginya biaya bahan bakar.
Daniel Mainard Samosir dari GIZ dan Muhammad Nurdiansyah dari perusahaan listrik milik negara PLN bekerja sama untuk menguji coba sistem irigasi bertenaga surya di Desa Sau, Kabupaten Kupang Timur.

Proyek percontohan ini akan mengganti pompa diesel yang ada dengan pompa air bertenaga surya, sehingga memberikan petani cara yang lebih bersih, lebih terjangkau, dan lebih andal untuk mengairi sawah tadah hujan mereka.
Tingginya radiasi matahari di Kupang menjadikannya lokasi ideal untuk proyek ini, yang bertujuan untuk menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus mengurangi emisi.
"Jika berhasil, kami berharap dapat mereplikasi model ini di daerah penghasil beras lain yang menghadapi tantangan serupa," ujar Daniel. "Kami menyadari bahwa kami memiliki pemahaman yang sama dan memutuskan untuk menggabungkan ide-ide kami menjadi satu proyek bersama."
- Kerangka hukum transisi energi di Maluku — oleh Betti Ratekan (Bappeda Maluku – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Maluku)
Bagi Betti, transisi yang adil dimulai dengan kebijakan yang melindungi hak-hak masyarakat.
Ia menekankan bahwa dukungan hukum yang kuat sangat penting untuk memastikan bahwa rencana pembangunan Maluku benar-benar memajukan keadilan energi, daripada tetap menjadi pernyataan kebijakan tanpa penegakan hukum.
Betti melihat kemitraan internasional sebagai hal penting untuk membantu mewujudkan komitmen iklim yang diuraikan dalam rencana dan memastikan Maluku dapat mendorong transisi yang bermanfaat bagi masyarakatnya.

“Semua proyek tersebut berpotensi memberikan dampak lokal yang besar,” kata Profesor Prasad.
Membangun momentum di luar jalur
Selain pengetahuan baru, kursus ini menciptakan ikatan.
“Para peserta adalah calon pemimpin masa depan sektor energi,” ujar Profesor Lucas. “Mereka sedang membangun hubungan untuk berkolaborasi.”
Peserta juga menyoroti pentingnya kolaborasi berkelanjutan di luar kursus, termasuk akses ke pendanaan yang akan memungkinkan proyek percontohan diluncurkan di komunitas terpencil, kemitraan yang lebih kuat dengan pemerintah daerah dan industri, serta jaringan alumni yang aktif untuk mempertahankan momentum dan mendorong tindakan kolektif.
“Kami akan terus berupaya mewujudkan proyek-proyek ini,” kata Daniel.

Menatap ke Depan
Saat matahari terbenam di Sumbawa, para peserta merenungkan perjalanan dari debat kebijakan hingga percakapan dengan para nelayan yang masa depannya bergantung pada energi yang dapat diakses, andal, dan bersih.
Profesor Kaparaju menangkap esensi program ini, "Ini tentang memberdayakan masyarakat. Dari ruang kelas hingga pesisir untuk membentuk masa depan berkelanjutan mereka sendiri."
Kursus tersebut mungkin telah berakhir di tepi perairan biru kehijauan Sumbawa, tetapi momentumnya terus berlanjut melalui para alumni, yang bertekad untuk memastikan transisi Indonesia tidak hanya bersih tetapi juga adil.