Di sebuah kantor pelayanan publik di Wonosobo, Jawa Tengah, Maryam Ramadani, seorang wanita pengguna kursi roda, berhenti di kaki tangga. Tidak ada jalan landai. Tidak ada pegangan tangan. Tidak ada pilihan.
Untuk memasuki gedung itu, dia harus meminta bantuan seseorang. Tugas sederhana bagi kebanyakan orang, tetapi bagi Maryam, itu adalah pengingat bahwa pembangunan belum dirancang untuk semua orang.
Maryam adalah seorang aktivis dan sekarang menjadi wirausahawan sosial. Namun sebelum semua itu, dia hanyalah seorang warga negara yang ingin mengakses layanan publik tanpa hambatan.
“Dari puluhan gedung layanan publik di wilayah kami, hanya sebagian kecil yang memiliki fasilitas ramah disabilitas, dan itupun seringkali gagal memenuhi standar yang seharusnya,” kenang Maryam.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa hampir 23 juta orang, atau sekitar 8.5 persen dari populasi, hidup dengan disabilitas. Namun, banyak yang masih menghadapi akses yang tidak setara terhadap pendidikan, pekerjaan, dan layanan publik. Di atas kertas, UU No. 8 Tahun 2016 menjamin hak atas aksesibilitas. Namun, dalam praktiknya, kenyataan seringkali menunjukkan cerita yang berbeda.
Maryam tidak berhenti hanya pada advokasi. Pada tahun 2017, ia bergabung dengan Asosiasi Perempuan Penyandang Disabilitas Indonesia (HWDI), di mana ia aktif terlibat dalam dialog dengan pemerintah daerah dan mendorong pembangunan infrastruktur yang lebih inklusif.
Pada September 2023, ia mengambil langkah maju lainnya dengan mendirikan CV Cahaya Inklusi. Ia melakukan penilaian terhadap empat puluh dua gedung pelayanan publik. Hasilnya sangat mencengangkan: delapan puluh persen tidak memenuhi standar aksesibilitas.
“Saya telah melihat sendiri bagaimana fasilitas dibangun hanya untuk memenuhi persyaratan administratif, tanpa mempertimbangkan keselamatan atau kemudahan penggunaan,” katanya.

Dari temuan-temuan ini lahirlah sebuah inovasi: sebuah landasan ramp portabel yang terbuat dari limbah kayu yang sebelumnya dibuang ke sungai. Landasan ramp ini ringan, mudah dipasang, rendah emisi, dan dirancang berdasarkan pengalaman nyata para penggunanya.
Saat ini, limbah kayu yang dulunya mencemari saluran air setempat telah menjadi sumber pendapatan tambahan bagi rumah tangga di desa tersebut.

CV Cahaya Inklusi kemudian menjadi bagian dari ekosistem startup hijau melalui KINETIK NEX, sebuah program yang dijalankan oleh New Energy Nexus dan KINETIK. Inisiatif ini mendukung startup energi bersih dan teknologi iklim sekaligus mempromosikan pertumbuhan inklusif di luar kota-kota besar.
Dari Wonosobo, Maryam menunjukkan bahwa akses yang setara bukan hanya fasilitas tambahan. Itu adalah fondasi dari masa depan yang adil dan berkelanjutan.