Michael Hadiono, salah satu pendiri startup akuakultur Ternakin, tengah mengamati para pekerja mengangkat ikan-ikan yang berloncatan dari jaring besar ke dalam peti kuning.
Dia tampak puas melihat ukuran ikan-ikan itu: sebagian besar ikan-ikan tersebut akan dengan mudah menghasilkan fillet seberat 400 gram, berat minimum yang dibutuhkan oleh pabrik pengolahan.
“Pangasius membutuhkan ruang yang cukup luas agar tetap sehat,” jelas Michael. “Kepadatan yang berlebihan dapat menurunkan nafsu makan dan tingkat kelangsungan hidup mereka.”

Sebagian besar ikan ini akan segera dimuat ke truk dan dikirim ke pabrik, di mana ikan tersebut akan dipotong-potong dan dijual ke restoran.
Ternakin juga memasok ikan untuk program makanan gratis Pemerintah Prabowo untuk anak-anak dan ibu hamil, yang bertujuan untuk mengatasi stunting dan kekurangan gizi.
“Kami berupaya mendukung para petani mitra kami dengan membuka akses pasar yang selama ini sulit mereka jangkau,” kata Chief Operating Officer sekaligus salah satu pendiri Ternakin, Indriawan Widya Utama.
“Kami berupaya menjalin kemitraan dengan jaringan distribusi utama di kota-kota besar, serta jaringan hotel, restoran, dan katering, dengan harapan produk yang dihasilkan petani kami dapat memperoleh nilai yang lebih tinggi.”
Tambak ikan di Belitang ini dimiliki bersama oleh pemilik lahan, Eko, dan Ternakin, yang bekerja sama dengan petani ikan skala kecil untuk meningkatkan hasil panen mereka, menurunkan biaya pakan, dan menambah pendapatan mereka.

“Indonesia memiliki potensi besar di sektor perikanan, namun kami melihat langsung bagaimana para petanu ikan skala kecil … kesulitan mendapatkan akses ke pasar yang stabil, modal kerja, dan dukungan teknis yang memadai,” kata Michael.
Setiap hari, Eko dan timnya memantau kolam, mencatat jumlah ikan yang mati, ukuran sampel ikan, jumlah pakan, dan total populasi ikan.
Awalnya, Ternakin mencoba mengajarkan para petani mengunggah data tersebut melalui aplikasi, namun ketika hal itu dirasa sulit, startup ini menyarankan agar mereka tetap mencatat informasi tersebut secara manual di kertas.
“Banyak petani yang belum melek teknologi,” kata Michael.
Sebaliknya, mereka beralih ke WhatsApp, platform pengiriman pesan yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Kini para petani memotret catatan mereka dan mengirimkannya melalui WhatsApp ke Ternakin, yang kemudian mengunggah, menganalisis data tersebut, dan menyediakan pakan serta benih ikan.
“Selain itu, kami memberikan pendampingan teknis kepada para mitra akuakultur kami, agar hasil panen mereka menjadi lebih produktif dan efisien, sehingga operasional mereka lebih berkelanjutan dan menjanjikan bagi masa depan keluarga mereka.”
Ternakin adalah salah satu dari lima startup Indonesia yang menerima KINETIK Sweef Fellowship, sebuah program yang mendukung pertumbuhan bisnis dalam ekonomi hijau.
Setiap KINETIK Sweef Fellow mendapatkan pelatihan dalam perencanaan strategis, keberlanjutan, pengukuran dampak, inklusi gender, manajemen keuangan, dan kepemimpinan.
“Kami memilih untuk bekerja sama dengan Ternakin karena mereka mengatasi tiga tantangan besar sekaligus – ketahanan pangan, ketahanan iklim, dan penghidupan masyarakat pedesaan,” kata Stefani Vivian, Asisten Wakil Presiden Investasi Program di Sweef Capital.

Pendampingan teknis kami difokuskan untuk memperkuat perencanaan dan penganggaran mereka agar dapat tumbuh secara berkelanjutan. Kami juga membantu mereka membangun sistem untuk melacak dampak, bukan hanya jumlah ikan yang mereka hasilkan, tetapi juga manfaat lingkungan dan sosialnya.
Stefani menambahkab bahwa sebagian besar dukungan Program Kewirausahaan KINETIK Sweef berfokus pada inklusivitas gender.
Bidang aquakultur secara tradisional didominasi laki-laki, tetapi Ternakin sudah melibatkan perempuan di tempat pembenihan dan pabrik pengolahan. Kami membantu mereka menanamkan nilai-nilai inklusi gender dalam seluruh operasional mereka seiring pertumbuhan perusahaan.
Ade Rahma adalah manajer penetasan ikan Ternakin yang memasok benih ikan (fishling) ke tambak-tambak mitra.
“Memang benar belum banyak perempuan yang berkecimpung di sektor perikanan,” katanya.

Namun, Ade mencontohkan sosok perempuan berpengaruh di industri aquakultur seperti Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang vokal dan pendiri perusahaan pengolahan dan ekspor hasil laut.
“Bagi saya, bekerja di sini adalah bentuk nyata kesetaraan bukan sekadar sesuatu yang dituntut, melainkan sesuatu yang secara aktif kita perjuangkan bersama,” kata Ade.
Indiawan mengatakan, Ternakin berupaya menjadikan keberagaman sebagai nilai inti di setiap lini bisnis, termasuk rantai pasok.
Di perusahaan pengolahan hasil laut PT Bima Harapan Panca Utama di Lampung Selatan, yang memfillet ikan Ternakin, 85 persen karyawannya adalah perempuan.
Direktur Rian Wiguna mengatakan, ia lebih suka mempekerjakan perempuan karena keterampilan mereka dalam memfillet ikan.

“Pemotongan harus konsisten, tidak berantakan atau boros,” katanya.
Erpriani, Kepala Produksi, mengatakan sebagian besar perempuan disana dulunya adalah ibu rumah tangga sebelum pabrik berdiri pada tahun 2021.
“Dengan hadirnya perusahaan ini, kami mendapat kesempatan untuk membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Di sebuah gudang besar dekat tambak ikan di Belitang, para pekerja tambak dengan menggunakan sekop, mengumpulkan jeroan, kulit, dan tulang ikan – yang telah dijemur – lalu diproses menjadi tepung halus.
Tepung ini kemudian dimasukkan ke mesin pembuat pelet untuk dijadikan pakan ikan yang digunakan kembali di kolam.

Ternakin juga tengah mengembangkan cara untuk mengolah limbah ikan menjadi produk lain seperti krupuk ikan dan pupuk.
“Dengan cara ini, limbah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diubah menjadi produk bernilai tambah, sehingga mendorong ekonomi sirkular yang mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi budidaya, dan menciptakan lapangan kerja baru,” ujar Michael.
Stefani menjelaskan bahwa Program Wirausahawan KINETIK Sweef membantu Ternakin melacak hasil lingkungan tanpa memperlambat operasional.
Pendampingan teknis tersebut juga membantu Ternakin mendokumentasikan praktik keberlanjutannya, sehingga semakin menarik bagi investor berdampak (impact investors).
“Kami memulai dari pola pikir yang sangat komersial – keuntungan selalu menjadi pendorong utama,” kata Michael.

“Program ini benar-benar mendorong kami untuk menempatkan aspek dampak dan keberlanjutan, sesuatu yang sebelumnya belum kami prioritaskan.”
Ternakin juga belajar memperbaiki pemodelan keuangannya, termasuk proyeksi pendapatan, peningkatan margin laba, dan proyeksi pembiayaan utang/ekuitas yang memungkinkan perusahaan untuk dengan percaya diri menyajikan peluang selama pertemuan investor.
"Program KINETIK Sweef Entrepreneurs ini adalah yang paling praktis dan mendalam dibandingkan program lain yang pernah kami ikuti,” ujar Michael. “Pendampingannya teknis, aplikatif, dan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan kami."
Stefani menambahkan bahwa pendampingan teknis ini juga membantu Ternakin agar tidak lagi meremehkan nilai usahanya sendiri.
“Model baru mereka tidak hanya menunjukkan posisi bisnis saat ini, tapi juga sejauh mana potensinya bisa berkembang – dan hal itu mengubah seluruh cara pandang para investor.”