Kenali kelompok-kelompok yang memperluas akses ke pendanaan iklim.

Enam organisasi masyarakat sipil menerima dana hibah dari KINETIK untuk mengatasi hambatan yang dihadapi oleh perempuan, penyandang disabilitas, dan masyarakat dari daerah terpencil dalam mengakses pendanaan iklim.

Sebagian besar pendanaan iklim hanya tersedia untuk kelompok kecil yang memiliki hak istimewa, dan perempuan serta penyandang disabilitas sering kesulitan mendapatkan pendanaan untuk mengembangkan bisnis mereka.

Sebagai bagian dari perannya dalam mempromosikan transisi energi yang adil, KINETIK memberikan hibah kepada organisasi sipil untuk membuat pembiayaan iklim lebih inklusif.

Para penerima hibah mengembangkan alat dan kerangka kerja praktis – seperti panduan penilaian pinjaman inklusif, perangkat kesiapan investasi, dan daftar periksa Kesetaraan Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial – untuk membantu lembaga keuangan menilai peminjam secara lebih adil dan transparan.

Mereka juga menyediakan pelatihan dan pendampingan bagi para pengusaha, fasilitator lokal, dan staf layanan keuangan untuk memperkuat literasi keuangan, mengurangi bias bawah sadar, meningkatkan kesiapan bisnis, dan mendukung praktik pemberian pinjaman yang lebih inklusif.

Beberapa proyek menggunakan pendekatan partisipatif dan berbasis komunitas, termasuk lokakarya, diskusi kelompok fokus, pemetaan pemangku kepentingan, dan proses kreasi bersama yang menyatukan pemberi pinjaman, pengusaha, perempuan, dan penyandang disabilitas untuk merancang solusi yang didasarkan pada pengalaman nyata.

Pelajari lebih lanjut tentang proyek-proyek penerima hibah di sini:

Yayasan Terala dan MicroSave Consulting: FINClude Hijau

FINclude Green adalah alat penilaian permohonan pinjaman yang dirancang untuk membantu perempuan, penyandang disabilitas, dan bisnis ramah lingkungan di Indonesia mendapatkan akses pembiayaan yang lebih mudah.

Alat ini dikembangkan oleh Terala Foundation dan MicroSave Consulting untuk mengatasi hambatan yang sering mereka hadapi, termasuk bias dalam penilaian risiko kredit, rendahnya tingkat literasi keuangan dan digital, serta keterbatasan dokumentasi hukum.

Inti dari proyek ini adalah panduan penilaian pinjaman awal lima langkah yang membantu lembaga keuangan mengambil pendekatan yang lebih komprehensif, daripada hanya mengandalkan persepsi risiko konvensional.

Panduan ini menggabungkan faktor-faktor seperti kesetaraan gender, inklusi penyandang disabilitas, praktik ramah lingkungan yang berkelanjutan, dan ketahanan bisnis ke dalam proses penilaian kredit.

Hal ini memungkinkan lembaga keuangan untuk lebih mudah mengidentifikasi peminjam yang benar-benar layak kredit tetapi sebelumnya telah dikecualikan dari pembiayaan formal.

Pendekatan ini menciptakan peluang pembiayaan yang lebih besar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), yang seringkali diabaikan meskipun memiliki potensi pengembalian yang kuat. Proyek ini juga menyediakan pelatihan bagi staf layanan keuangan untuk membantu mengurangi bias bawah sadar.

Dengan mengalihkan fokus dari risiko yang dirasakan ke kinerja aktual, FINclude Green membantu pemberi pinjaman mengenali peluang pasar yang belum dimanfaatkan dan yang selama ini kurang terlayani.

Yayasan Penabulu: Memperkuat Mekanisme Pendanaan BPDLH

Program ini, yang dilaksanakan oleh Yayasan Penabulu, mendukung Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Indonesia dalam menjadikan pembiayaan iklim lebih inklusif dan mudah diakses bagi perempuan dan penyandang disabilitas.

Proyek ini bekerja sama dengan organisasi perantara, yang dikenal sebagai Lemtara, yang mendistribusikan dana lingkungan dari BPDLH kepada masyarakat dan bisnis di seluruh Indonesia.

Organisasi-organisasi ini meliputi kelompok masyarakat sipil, unit pemerintah nasional dan lokal, serta perusahaan sosial yang bekerja di sektor-sektor seperti konservasi keanekaragaman hayati, keuangan hijau, dan restorasi hutan bakau untuk ketahanan pesisir.

Melalui program pelatihan dan modul pembelajaran baru, inisiatif ini memperkuat bagaimana Lemtara menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan dan Sosial (ESMS) BPDLH serta prinsip-prinsip perlindungannya.

Hal ini membantu memastikan bahwa kesetaraan gender, inklusi disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) dalam perlindungan BPDLH tercermin tidak hanya dalam kebijakan, tetapi juga dalam desain, penilaian, dan penyampaian pendanaan dalam praktiknya.

SIGAB – SAHABAT BUMI: Memetakan Inklusi Disabilitas dalam Pendanaan Perubahan Iklim

SAHABAT BUMI adalah proyek penelitian selama lima bulan yang bertujuan untuk mengidentifikasi bagaimana penyandang disabilitas dapat memperoleh akses yang lebih baik terhadap informasi dan dukungan terkait pembiayaan iklim.

Proyek ini dipimpin oleh SIGAB, sebuah Organisasi Penyandang Disabilitas (OPD) yang misi utamanya adalah memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas.

Melalui inisiatif ini, SIGAB meneliti sejauh mana partisipasi penyandang disabilitas dalam pembiayaan iklim dan inisiatif ekonomi hijau, sekaligus mengidentifikasi faktor-faktor yang memungkinkan atau menghambat keterlibatan mereka.

Melalui survei, diskusi kelompok fokus, dan pemetaan pemangku kepentingan di berbagai provinsi, SIGAB menilai hambatan di tingkat individu, komunitas, dan kebijakan.

Temuan awal menunjukkan bahwa meskipun banyak penyandang disabilitas menyadari isu perubahan iklim, pemahaman ini seringkali masih terbatas pada konteks yang berkaitan dengan bencana. Hubungan antara aksi iklim dan peluang ekonomi di sektor hijau masih kurang dipahami secara luas.

Proyek ini juga menyoroti kesenjangan dalam pengetahuan, aksesibilitas, dan inklusi keuangan. Dalam banyak kasus, penyandang disabilitas masih belum dianggap "layak secara finansial", yang pada akhirnya membatasi akses mereka terhadap peluang pembiayaan.

WasteHub Alam Lestari: LESTARI

LESTARI (Leveraging Sustainable Access for Resilient Inclusion) adalah program yang menyediakan pelatihan dan pendampingan bagi bisnis yang dipimpin oleh perempuan dan penyandang disabilitas.

Program ini diimplementasikan oleh konsorsium yang dipimpin oleh WasteHub, sebuah perusahaan sosial yang berfokus pada pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular, bersama dengan Difalink, Jepara Green Generation, dan Flores Bumi Lestari.

Program LESTARI dimulai dengan penelitian untuk lebih memahami hambatan yang dihadapi para pengusaha dalam mengakses pembiayaan iklim. Tantangan-tantangan ini meliputi status hukum yang lemah, penggunaan rekening bank pribadi untuk tujuan bisnis, pencatatan keuangan yang terbatas, dan kurangnya sertifikasi.

Program tersebut kemudian memberikan pelatihan daring kepada 30 wirausahawan. Topik yang dibahas meliputi standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), pengembangan bisnis, keuangan hijau, dan teknik presentasi bisnis. Dari kelompok ini, 15 wirausahawan perempuan atau wirausahawan penyandang disabilitas dipilih untuk menerima pendampingan yang lebih intensif dan personal.

Program tersebut diakhiri dengan Demo Day, di mana temuan penelitian dipresentasikan. Kelima belas wirausahawan tersebut juga mempresentasikan produk dan layanan mereka kepada investor, lembaga keuangan, perusahaan, dan organisasi non-pemerintah.

Acara ini juga berfungsi sebagai platform dialog lintas sektor, memungkinkan para pengusaha untuk berinteraksi langsung dengan investor, lembaga keuangan, dan mitra strategis untuk mengeksplorasi peluang pembiayaan dan pendanaan yang nyata.

Saraswati dan Kelompok Penasihat Inklusi Global CBM: Pembiayaan Iklim Inklusif

Saraswati dan Kelompok Penasihat Inklusi (IAG) dari CBM Global mengembangkan perangkat praktis untuk mendukung pembiayaan iklim yang lebih inklusif bagi usaha kecil dan menengah di Indonesia, khususnya yang dipimpin oleh perempuan dan penyandang disabilitas.

Salah satu kekuatan utama dari perangkat ini terletak pada pendekatannya yang partisipatif, kolaboratif, dan dari bawah ke atas.

Saraswati secara aktif mempertemukan lembaga keuangan dan pemilik bisnis melalui serangkaian lokakarya, memungkinkan kedua kelompok tersebut untuk berbagi perspektif dan pengalaman secara langsung.

Pendekatan ini menciptakan pemahaman bersama tentang hambatan yang dihadapi perempuan dan penyandang disabilitas dalam mengakses pendanaan iklim, sekaligus memastikan bahwa solusi yang dikembangkan relevan dan praktis.

Proyek ini menghasilkan dua perangkat bantu yang saling melengkapi: satu untuk lembaga keuangan dan satu untuk para pengusaha. Untuk lembaga keuangan, proyek ini mengembangkan daftar periksa keuangan iklim yang inklusif gender dan disabilitas untuk mendukung proses penilaian pinjaman yang lebih transparan dan fleksibel.

Bagi para pengusaha, proyek ini menciptakan kerangka kerja kesiapan investasi, termasuk panduan tentang penyajian kinerja bisnis, risiko, dan strategi mitigasi. Kerangka kerja ini membantu memperjelas proses pengajuan kredit sekaligus meningkatkan kemampuan pengusaha untuk mengakses pembiayaan.

Inisiatif ini melibatkan usaha kecil dan menengah di Jakarta, Bali, dan Nusa Tenggara Timur, yang dipilih untuk mewakili beragam risiko iklim dan konteks pembiayaan di seluruh Indonesia.

Pendekatan ini semakin memperkuat relevansi perangkat panduan tersebut bagi para pengusaha dan lembaga keuangan, karena perangkat panduan tersebut dikembangkan berdasarkan pengalaman dan tantangan nyata dari lapangan.

Arbeiter-Samariter-Bund Asia Selatan dan Tenggara: HARMONI

Program HARMONI (Hope for Inclusive Climate Action Mobilization) mendukung desa-desa di Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, untuk membangun ekonomi hijau yang lebih inklusif.

Program yang diimplementasikan oleh Arbeiter-Samariter-Bund Asia Selatan dan Tenggara (ASB S-SEA) ini berfokus pada memastikan bahwa perempuan, penyandang disabilitas, dan rumah tangga berpenghasilan rendah tidak hanya mampu berpartisipasi, tetapi juga mendapatkan manfaat dari peluang bisnis berbasis iklim.

Salah satu prioritas utama HARMONI adalah memperluas akses ke pendanaan iklim di tingkat desa.

Sampai saat ini, banyak sumber pendanaan — termasuk dana desa, program pemerintah, dan koperasi — masih sulit diakses oleh kelompok-kelompok yang terpinggirkan.

Untuk mengatasi tantangan ini, HARMONI melatih fasilitator lokal untuk mempromosikan praktik kewirausahaan yang lebih adil dan inklusif, dengan fokus kuat pada kesetaraan gender, inklusi penyandang disabilitas, dan kesempatan yang sama di tingkat desa.

Para peserta program juga terlibat dalam mengembangkan dan menguji perangkat panduan kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI) yang dirancang khusus untuk bisnis ramah lingkungan di desa-desa pesisir Repi dan Warloka.

Perangkat ini kemudian dapat digunakan oleh kelompok usaha desa, pejabat desa, dan komunitas yang terpinggirkan, termasuk penyandang disabilitas, rumah tangga yang dikepalai perempuan, dan keluarga berpenghasilan rendah.