Jurnalis raih KINETIK NEX Media Awards atas liputan isu iklim

Lima jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berhasil meraih KINETIK NEX Media Awards sebagai bentuk apresiasi atas karya jurnalistik mereka dalam mengangkat isu kewirausahaan hijau dan solusi iklim.

Para pemenang diumumkan bertepatan dengan Hari Pers Nasional pada 9 Februari, dan masing-masing menerima penghargaan serta hadiah uang tunai sebesar lima juta rupiah.

Adapun para jurnalis pemenang adalah:

Tahnia Allauddin, Second Secretary Climate and Infrastructure di Kedutaan Besar Australia, menyampaikan sambutannya dalam acara penganugerahan KINETIK NEX Media Awards 2026. Foto: JEFRI TARIGAN

Tahnia Allauddin, Second Secretary Climate and Infrastructure di Kedutaan Besar Australia, mengatakan dirinya senang dapat merayakan jurnalisme berkualitas yang turut meningkatkan kesadaran publik tentang energi terbarukan, aksi iklim, dan pembangunan ekonomi yang inklusif.

“Isu-isu ini sangat dekat dengan hati kami dalam kemitraan KINETIK, yaitu Kemitraan Iklim, Energi Terbarukan, dan Infrastruktur Australia–Indonesia,” ujarnya.

“KINETIK berinvestasi pada pelaku usaha di Indonesia yang berfokus pada energi bersih dan perubahan iklim, sekaligus mendukung startup iklim tahap awal yang menghadirkan solusi lokal untuk menjawab berbagai tantangan akibat perubahan iklim.”

Lima jurnalis pemenang tersebut merupakan bagian dari 15 jurnalis terpilih yang mengikuti pelatihan jurnalisme KINETIK NEX, yang menitikberatkan pada jurnalisme solusi dengan mengangkat peran startup energi dan iklim lokal dalam mendorong transisi energi yang berkeadilan di Indonesia.

Sebagai bagian dari program ini, kelima belas jurnalis dipasangkan dengan para pendiri startup dari KINETIK NEX Entrepreneurs’ Program, sebuah program inkubasi bisnis bagi startup di sektor ekonomi hijau.

Para jurnalis kemudian mewawancarai para pendiri tersebut mengenai tantangan yang mereka hadapi, berbagai terobosan yang berhasil dicapai, serta dampak nyata startup mereka bagi masyarakat.

Jurnalis dan editor IDN Times, Dhana Kencana, menjadi salah satu dewan juri KINETIK NEX Media Awards 2026. Foto: JEFRI TARIGAN

Dhana Kencana, jurnalis dan editor di IDN Times sekaligus salah satu juri kompetisi, menjelaskan bahwa karya-karya yang masuk dinilai berdasarkan kedalaman peliputan, kejelasan dan orisinalitas penceritaan, relevansi, akurasi, penggunaan data, serta potensi dampaknya terhadap pemahaman publik.

“Lima karya terbaik ini tidak hanya memenuhi standar jurnalistik – mereka berhasil menemukan ‘jiwa’ di balik isu-isu teknis tentang energi bersih dan iklim,” ujar Dhana.

“Kelima karya ini merepresentasikan spektrum liputan yang utuh: mulai dari tantangan akses energi di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), potensi keanekaragaman hayati di negara tropis, praktik ekonomi sirkular berbasis akar rumput, hingga ketekunan dan daya juang para inovator muda.”

Menurut Dhana, lima jurnalis pemenang membuktikan bahwa isu energi bersih dan perubahan iklim tidak harus terasa membosankan atau elitis.

“Di tangan mereka, isu-isu ini berubah menjadi kisah tentang harapan, solusi atas kemiskinan, peluang usaha, dan kedaulatan pangan.”

Jurnalis pemenang Meidella Syahni dari Mongabay Indonesia bersama Direktur KINETIK John Brownlee. Foto: JEFRI TARIGAN

Salah satu pemenang, Meidella Syahni dari Mongabay Indonesia, mengatakan ia mendaftar pelatihan jurnalisme KINETIK NEX karena ingin lebih mendalami pendekatan jurnalisme solusi dalam melaporkan isu-isu lingkungan.

“Saya sudah menulis sejak 2017, dan sebagian besar cerita saya berisi persoalan lingkungan yang terus berulang.”

Dalam liputannya, Meidella mengangkat Algatech Nusantara, yang tengah mengembangkan riset mikroalga untuk menangkap karbon.

“Mereka sudah melakukan riset ini sejak tahun 1980-an dan potensinya sangat besar – bukan hanya untuk penangkapan karbon, tetapi juga untuk transisi energi, pangan, dan banyak lagi,” kata Meidella.

“Tantangannya, mereka belum mendapat dukungan yang cukup. Lewat artikel ini, saya berharap semakin banyak orang membaca kisah mereka dan tergerak untuk kembali mendukung.”

 Pemenang lainnya, Lilik Darmawan dari Media Indonesia, mengangkat kisah STB Pellet, startup yang didirikan mahasiswa di Madiun, Jawa Timur, saat masa pandemi. 

STB Pellet mengolah limbah pertanian dan industri menjadi pelet biomassa yang dapat menggantikan batu bara.

Jurnalis pemenang Lilik Darmawan dari Media Indonesia mengaku terkesan dengan pendekatan segar para mahasiswa pendiri STB Pellet. Foto: JEFRI TARIGAN

Menurut Lilik, gagasan para mahasiswa tersebut berawal dari peristiwa kebakaran di sebuah tempat pembuangan akhir. “Mereka kemudian mengajukan pertanyaan yang sangat sederhana tetapi kuat: jika sampah bisa terbakar, mengapa tidak diubah menjadi bahan bakar?”

Lilik melihat adanya perbedaan cara pandang antara Generasi Z dan generasi sebelumnya. 

“Itulah inti tulisan saya: gerakan yang digerakkan anak muda, khususnya Gen Z, melalui koperasi untuk menghadirkan momentum dan energi baru dalam transisi energi dengan memproduksi STB Pellet.” 

Direktur KINETIK John Brownlee mengatakan jurnalisme memiliki peran penting dalam membantu masyarakat memahami secara lebih jelas berbagai inisiatif untuk mengatasi perubahan iklim dan mendorong transisi hijau yang berkeadilan.

Menurutnya, kisah-kisah seperti yang ditulis para jurnalis peserta pelatihan KINETIK NEX menunjukkan bahwa, meskipun tantangan besar masih ada, perubahan positif tetap mungkin terjadi.

“Kisah-kisah seperti ini benar-benar menunjukkan bahwa isu ini penting,” ujarnya. “Perubahan tidak hanya lahir dari kebijakan tingkat tinggi atau perusahaan besar, tetapi juga bisa tumbuh dari akar rumput.”