Peluncuran Dana KINETIK

Dana baru yang menargetkan sektor iklim, termasuk energi terbarukan, limbah, dan transportasi berkelanjutan di Indonesia, resmi diluncurkan oleh Dubes Australia Rod Brazier pada 1 Juli.

Pemerintah Australia berkomitmen untuk menginvestasikan AUD 50 juta sebagai pendanaan awal untuk dana ini melalui the Private Infrastructure Development Group (PIDG), lembaga multilateral yang fokus pada pengembangan dan pendanaan proyek infrastruktur.

Dana yang diberi nama KINETIK Affirma Capital Climate Transition Fund ini akan dikelola oleh Affirma Capital, perusahaan ekuitas swasta terkemuka di kawasan Asia yang berbasis di Singapura.

Kontribusi dari Pemerintah Australia akan mendorong investasi pada proyek-proyek terkait iklim, sekaligus menarik pendanaan tambahan dari sektor swasta.

Dana KINETIK - yang mendukung target Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat - akan menyalurkan investasi ke berbagai sektor seperti energi bersih, daur ulang dan pengelolaan limbah, pengolahan dan penggunaan kembali air, serta transportasi dan logistik berkelanjutan.

Contoh investasi awal yang potensial meliputi proyek pembangkit listrik tenaga air dan panel surya skala industri.

Dana KINETIK – yang diharapkan menarik investor lain – akan dimulai pada paruh kedua tahun 2025 dengan periode investasi 10 tahun hingga 2035.

Duta Besar Brazier menyatakan bahwa Australia berkomitmen untuk mendukung berbagai peluang ekonomi dalam transisi Indonesia menuju energi terbarukan.

“Melalui Dana KINETIK, kami ingin membuka akses modal bagi perusahaan-perusahaan yang berkontribusi mengurangi emisi, mendorong investasi hijau, dan membangun ekonomi rendah karbon yang lebih tangguh,” ujarnya..

Duta Besar Australia untuk Indonesia Rod Brazier. Foto: JEFRI TARIGAN

Boby Wahyu Hernawan, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan, mengatakan bahwa bagi Indonesia, transisi energi bukan hanya tentang iklim – tetapi tentang stabilitas ekonomi makro.

Fluktuasi harga energi global berdampak langsung terhadap stabilitas Rupiah, efisiensi anggaran negara, dan ketahanan ekonomi rumah tangga.

"Angka tidak bohong. Setiap dolar yang tidak kita investasikan hari ini akan memakan biaya jauh lebih banyak besok untuk pemulihan bencana dan ketidakstabilan ekonomi," ujar Boby.

Menurut Boby, peluncuran Dana KINETIK menunjukkan bagaimana pengetahuan global dan tindakan lokal dapat bersinergi.

“Dengan PIDG dan investasi 50 juta Dolar Australia, kita tidak hanya mendanai proyek. Keberhasilan pelaksanaan komitmen ini akan menunjukkan bahwa pembiayaan iklim itu layak secara finansial, dapat diperluas, dan inklusif,” tambahnya.

“Mari kita ingat bahwa Indonesia dan Australia tidak hanya berpartisipasi dalam perbincangan tentang iklim global – kita turut membentuknya.”

Boby Wahyu Hernawan, Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan, Kementerian Keuangan. Foto: JEFRI TARIGAN

Duta Bisnis Australia untuk Indonesia, Profesor Jennifer Westacott mengajak investor institusional, spesialis infrastruktur, dan perusahaan ekuitas swasta – termasuk di Australia – untuk memanfaatkan peluang ini.

"Dana ini menggabungkan skala, dampak, dan potensi keuntungan secara komersial. Ini adalah kombinasi yang kuat bagi para investor yang ingin meraih imbal hasil sekaligus berkontribusi terhadap tujuan iklim dan pembangunan,” ujar Profesor Westacott.

 “Itulah mengapa saya sangat menantikan untuk kembali ke Australia dan membahas dana ini di ruang-ruang rapat - bukan hanya sebagai peluang investasi yang menjanjikan, tapi juga sebagai model kemitraan yang kita butuhkan untuk mencapai target iklim bersama.”

Selain menjadi investor dalam dana ini, PIDG juga akan bekerja sama dengan Affirma Capital untuk menilai dan memberikan rekomendasi terkait investasi yang diusulkan—terutama sejauh mana investasi tersebut mendorong tercapainya tujuan transisi iklim Dana KINETIK, sejalan dengan praktik terbaik di bidang kesehatan, keselamatan, dan lingkungan, serta memberikan dampak sosial yang positif.

Kepala Pejabat Dampak Berkelanjutan PIDG Marco Serena. Foto: JEFRI TARIGAN

Investasi ini melanjutkan komitmen PIDG sebelumnya dalam mendukung pengembangan energi terbarukan di Indonesia, sekaligus memperkuat upaya menarik lebih banyak investasi swasta ke sektor infrastruktur berkelanjutan dalam negeri.

“PIDG memiliki komitmen kuat untuk mendorong investasi berkelanjutan demi mendukung target Indonesia mencapai emisi nol bersih sebelum tahun 2060,” ujar Marco Serena, Chief Sustainable Impact Officer PIDG

Winston Mandrawa, Managing Director dan Kepala Wilayah Asia Tenggara di Affirma Capital, menyatakan bahwa pihaknya antusias memulai kemitraan ini sebagai bagian dari upaya mendukung transisi iklim Indonesia sekaligus membuka peluang investasi yang menjanjikan.

"Bersama-sama, kami bertujuan membangun ekosistem yang kuat dan memicu minat serta partisipasi investor dalam keputusan-keputusan yang berdampak langsung pada 280 juta jiwa," ujarnya.