Naiknya permukaan air laut telah menenggelamkan daerah-daerah yang dulunya merupakan rumah di Oesapa, Pariti, Nunbaun Dela, dan Nunbaun Sabu, musim menjadi semakin tidak menentu, angin kencang dan gelombang tinggi lebih sering terjadi serta terjadi kerusakan pada infrastruktur pesisir, ungkap nelayan wanita Yasinta Adoe dalam lokakarya Inovasi Iklim.
Pada tahun 2021, Nusa Tenggara Timur diguncang oleh Siklon Seroja, siklon paling mematikan ketiga yang pernah tercatat di kawasan Australia, yang menewaskan lebih dari 180 orang di Indonesia dan merusak perahu.

Yasinta mengatakan perubahan iklim menyebabkan meningkatnya biaya penangkapan ikan, seperti naiknya biaya sewa perahu, menurunnya hasil panen rumput laut dan ikan, serta perubahan pasang surut yang tidak dapat diprediksi, sehingga menyulitkan nelayan untuk membaca tanda-tanda alam.
Dia mengatakan masyarakat pesisir mengandalkan pengetahuan leluhur dan pelajaran alam untuk beradaptasi dengan perubahan iklim.
Ini termasuk:
- Penanaman pohon waru, yang mengurangi erosi dan membentuk pertahanan terhadap pasang surut, sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun di Pasir Panjang.
- Penangkapan ikan gurita tradisional menggunakan tembakau untuk memikat gurita, teknik lembut yang menghindari kerusakan terumbu karang tempat mereka berkembang biak.
- Membangun rumah ikan (rumpon/rumah ikan) yang memulihkan habitat laut.

- Penjagaan pantai di Pasir Panjang, tempat penduduk secara konsisten melarang penambangan pasir, bahkan dalam skala kecil, untuk melindungi ekosistem garis pantai.
- Penanaman bakau di Tanah Merah dilanjutkan melalui tradisi keluarga.
- Upaya pemulihan karang di Alak yang menghidupkan kembali terumbu karang yang rusak akibat pemutihan menggemakan ajaran leluhur yang melarang ekstraksi karang dan batu kapur untuk melindungi kehidupan laut.
Ben Vasco Tarigan adalah salah satu pendiri Kuan Timor Technology (Kuantek), yang memasok air bersih ke desa-desa di Nusa Tenggara Timur, yang dicirikan oleh curah hujan rendah dan kelangkaan air.
Kuantek adalah salah satu dari 15 perusahaan rintisan iklim dari seluruh Indonesia yang terpilih untuk menjadi bagian dari Program Pengusaha KINETIK EX, yang menyediakan delapan minggu pendampingan khusus, dukungan teknis, dan akses ke investor.
Ben menceritakan dalam lokakarya tersebut bagaimana teknologi sederhana dapat membuka akses ke air bersih dan mendukung mata pencaharian lokal.

“Mulailah dengan apa yang sudah diketahui dan dapat diperbaiki oleh masyarakat,” ujar Ben, seraya menekankan bahwa inovasi tidak harus rumit dan penting untuk merancangnya dengan berkolaborasi bersama masyarakat setempat.
Kuantek merancang generator air atmosferik, yang menarik uap air dari udara dan mengembunkannya menjadi air minum bersih, serta dehidrator buatan masyarakat, yang mengeringkan cabai dan vanili.
Ini dirancang dengan bahan-bahan yang tersedia secara lokal yang dapat dipelihara oleh masyarakat.
"Tujuannya bukanlah teknologi mencolok yang terasa abstrak," kata Ben. "Tujuannya adalah menciptakan solusi yang manusiawi, praktis, dan berkelanjutan."
Lebih dari 50 peserta dari pemerintahan, akademisi, kelompok masyarakat, LSM, dan sektor swasta bergabung dengan delapan tim di lokakarya tersebut untuk bertukar pikiran mengenai solusi atas masalah di wilayah mereka.

“Yang terpenting adalah bagaimana ide Anda terhubung dengan kebutuhan nyata komunitas Anda,” kata Renaldo Sutjiady, seorang fasilitator dari New Energy Nexus.
Tim berdiskusi tentang cara mengatasi berbagai masalah seperti kelangkaan air, erosi pantai, polusi limbah, cuaca yang tidak menentu, dan kehilangan pangan dengan berbagai ide mulai dari daur ulang batu bata ramah lingkungan dan irigasi tenaga surya hingga keran pintar hemat air dan bahan bakar briket kopi.
Perwakilan dari Dinas Koperasi dan Bank NTT berbagi peluang pendanaan, termasuk pinjaman mikro hingga Rp10 juta dan pinjaman sanitasi hingga Rp500 juta.
Mereka juga membahas pembiayaan digital bagi inovator lokal yang siap mengambil langkah berikutnya.